Demo Site

Friday, November 23, 2012

Membuat Puzzle-Alat Permainan Edukatif sendiri




Bahan : Kardus Bekas (Susu/makanan bayi), gambar di koran/kertas kado/majalah/brosur bekas/kalender

Peralatan : Gunting, Lem

Cara :

Potong kardus menjadi bentuk geometri tertentu untuk digunakan sebagai alasnya
Gunting gambar, lalu tempelkan ke bagian karton yang tidak bergambar
Buatlah pola potongan puzzle dan gunting sesuai pola tersebut. (sesuaikan dengan usia anak)
Tips:

Buatlah alas bentuk geometri yang ingin anda kenalkan kepada anak
Biarkan anak memilih gambar yang mereka sukai (atau anda bisa mencari gambar sesuai dengan tema yang anda pilih sebelumnya, namun tetap biarkan anak memilih)
Biarkan anak menggunting gambar untuk melatih jari-jari tangannya, lalu menempelkan ke karton.
Kenalkan kosa kata yang berkaitan dengan gambar yang mereka pilih

Misal anak memilih gambar nyamuk.

Rangsang anak sambil berdialog (bisa juga dalam rangka menuansakan agama)

Alhamdulillah, kakak sudah memilih gambar Nyamuk, serangga ciptaan Allah yang disebut dalam Al-Qur’an, jangan lupa sebelum memulai bermain mengucapkan Basmallah dan doa.

Berikan informasi yang berkaitan dengan nyamuk misal : bagian tubuh nyamuk, penyakit yang disebabkan nyamuk (Secara singkat dan jelas).

Firman Allah : Q.S. Al-Baqarah:26 yang artinya “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tiada ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik”
sumber :http://yudhistira31.wordpress.com/2008/05/23/membuat-puzzle-alat-permainan-edukatif/

Saturday, November 17, 2012

pentingnya proses pembentukan karakter pada anak


Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.
Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.
Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!
Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.

Tuesday, October 9, 2012

Mengajarkan Anak Bersedekah



  Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial dimana kita semua saling membutuhkan satu sama lain, tidak peduli dia kaya atau miskin. Manusia yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi akan disukai oleh banyak orang dan hubungan sosialnya dengan orang lain juga bisa terjalin dengan mudah.
Sebaliknya, orang yang mempunyai jiwa sosial yang rendah jarang disukai oleh orang lain, dan hubungan sosialnya dengan orang lain akan semakin sulit.

  Maka dari itu sudah selayaknya anda sebagai orang tua mengajari anak anda agar kelak jika dewasa dia akan menjadi orang yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi sehingga kehidupan anak anda bisa berjalan dengan baik dan lancar.

  Anda bisa mengajarkan sifat berbagi kepada anak, misalnya dengan memberi sedekah ke fakir miskin, membagi mainan ke panti asuhan, atau bahkan mulai dari hal yang terkecil yaitu dengan meminjamkan mainan ke temannya.

  Bila anda sudah berusaha untuk mengajari anak untuk sedekah, namun dia masih tetap menjadi anak yang pelit berarti ada yang salah dengan cara anda. Bila anda masih mengalami kesulitan cobalah untuk membaca tips di bawah ini dan menerapkannya kemudian.

1. Berilah contoh yang baik
  Anak-anak mempunyai kebiasaan suka mengamati dan meniru perbuatan orang tuanya. Bila anda tidak pernah bersedekah maka anak anda juga akan sulit untuk bersedekah karena tidak pernah melihat anda bersedekah. Jika ingin anak anda bersedekah maka berilah contoh yang baik dengan memberi sedekah.

2. Ceritakan kisah tentang orang yang suka bersedekah
  Anda bisa memberi cerita mengenai seseorang yang selalu mendapatkan pertolongan Tuhan karena mempunyai kebiasaan sedekah. Dengan kisah-kisah yang akan anda ceritakan itu anak anda akan merasa tertarik untuk melakukan sedekah sebagaimana isi dari kisah cerita itu.

3. Buatlah program yang menarik mengenai sedekah
  Anda bisa membuat program keluarga yang bisa anda lakukan satu minggu sekali atau satu bulan sekali. Anda bisa pergi bersama ke suatu tempat bersama anak, lalu melakukan sedekah di tempat tersebut. Misalnya di panti asuhan, masjid, panti jompo dan lain-lain. Dengan begitu jiwa sosial anak anda akan mengalami peningkatan begitu pula dengan kepekaan sosialnya.

4.Beri motivasi
  Anda bisa memberi motivasi anak bila dia sudah mulai tertarik untuk memberi sedekah. Misalnya dengan mengingatkan anak yang sudah berjanji untuk memberi sedekah.

Sunday, September 9, 2012

Anak sering mimisan, Berbahayakah?

Anak Sering Mimisan, Berbahayakah?


TANYA:

Saya mempunyai anak laki-laki yang berumur 6 tahun. Akhir-akhir ini hidungnya sering mengeluarkan darah ketika baru bangun tidur , terlebih saat kena panas. Mohon penjelasannya dok, apakah kondisi tersebut berbahaya?

Atiek Rosiyanti (28), Mataram

JAWAB :
Hidung mengeluarkan darah/mimisan dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya trauma di daerah hidung, faktor pembuluh darah halus di dalam rongga hidung yang terlalu tipis, namun dapat pula sebagai salah satu  tanda dari kelainan hematologi/darah atau keganasan darah.

Kondisi mimisan ini juga dapat dijumpai pada beberapa anak sehat. Biasanya karena faktor tipisnya pembuluh darah halus di rongga hidungnya yang akan pecah spontan terutama saat terkena trauma tumpul, suhu tubuh meningkat/demam, sedang pilek, atau setelah aktifitas fisik. Terlebih bila dalam keluarga ada yang menderita kondisi yang sama.
Selama mimisannya cepat berhenti, tidak disertai pembesaran liver atau limpanya, tidak ada demam yang lama (lebih dari seminggu), biasanya kondisi ini tidak ada apa-apa.

sumbar : http://health.kompas.com

Friday, August 31, 2012

Alergi Hawa Dingin



Bila anak menunjukkan gejala sebagai berikut, orangtua harus waspada, jangan-jangan itu adalah reaksi alergi hawa dingin:
* Saluran Napas
Gejalanya: banyak dahak,  batuk, dan sesak napas.
Udara dingin menyerang daya tahan tubuh yang menstimulasi produksi lendir/dahak di saluran pernapasan. Selanjutnya, udara dingin menyerang jaringan di bagian hidung. Saluran di jaringan hidung pun melebar. Akibatnya, jaringan dalam hidung membengkak, itu yang membuat hidung tersumbat. Ini pulalah yang dapat menyebabkan batuk atau memicu sesak napas.
* Kulit
Biasanya timbul gatal-gatal (urticaria). Hal ini disebabkan mekanisme pertahanan tubuh yang bereaksi secara berlebihan mengeluarkan histamin, yaitu  suatu senyawa kimia yang menyebabkan timbulnya gejala alergi berupa gatal-gatal yang bisa menyebar ke seluruh tubuh.
Bila gejala tersebut baru pertama kali muncul, orangtua sebaiknya segera membawa anak ke dokter untuk memastikan, apakah benar anak alergi hawa dingin atau ada penyebab lainnya. Tapi kalau sudah pasti anak menderita alergi hawa dingin, yang harus segera dilakukan adalah membawanya ke tempat yang lebih hangat, kemudian memakaikan pakaian yang lebih tebal (jaket/sweater), dan bentol-bentolnya bisa diberi bedak antigatal. Kalau memang sudah ada obat dari dokter, segera minum obatnya.
Tapi ingat, jangan minum obat sembarangan (bila belum pernah mendapat obat yang diresepkan dokter), sebab bila alergi itu muncul pada saluran napas, yang ditandai dengan batuk/banyak dahak/sesak, konsumsi obat sembarangan bisa menyebabkan anak makin sesak napas. Pasalnya, saat alergi terjadi pembengkakan di saluran napas dan pembengkakan itu terjadi ke arah dalam. Apa jadinya kalau gara-gara obat itu saluran napas semakin menutup? Tentu bisa fatal.
Sebaiknya anak diberikan minuman hangat supaya tubuhnya terasa hangat dari dalam. Boleh juga mengolesi tubuh dengan balsam/minyak untuk menghangatkan tubuh.
Kalau ditunggu sekitar satu jam setelah langkah-langkah di atas di lakukan, kondisi anak tak kunjung membaik atau malah memburuk, makin sesak napas, dahaknya semakin banyak, atau bentol-bentolnya semakin banyak, jangan tunggu lagi segera bawa ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan penanganan yang tepat seperti memberikan obat antihistamin, kadang kala juga diperlukan obat golongan steroid sesuai kondisi anak saat itu.



Thursday, August 30, 2012

Bila Si Kecil Banyak Bertanya


Pet! Listrik tiba-tiba padam, malam itu. Dengan sigap, abi segera menyalakan lampu minyak. Si 3th mengamati lampu minyak itu dengan penuh rasa ingin tahu. Tak lama kemudian, muncullah beberapa pertanyaan dari bibir mungilnya.
“Itu apa Bi?” “Itu lampu minyak, Sayang.” “Kok pakai lampu minyak kenapa Bi?” “Karena listrik mati.” “Listriknya kok mati kenapa toh Bi?” “Ya…mungkin karena tadi ada hujan deras.” “Kok tadi ada hujan deras kenapa Bi?” “Tadi di langit kan ada awan hitam, awan itu sekumpulan air, kalau turun jadi hujan.” Bla…bla…bla….Demikianlah pertanyaan si kecil bagai tak ada habisnya. Abinya pun dengan sabar menjawab pertanyaan putri sulungnya.

Rasa Ingin Tahu, Jangan Dimatikan
Anak-anak berusia 2-5 tahun memang seringkali mengajukan banyak pertanyaan kepada orangtua atau pengasuhnya. Pertanyaan mereka biasanya tidak jauh dari apa yang mereka temui, amati atau rasakan. Yang mendorong mereka mengajukan pertanyaan adalah besarnya rasa ingin tahu mereka terhadap segala sesuatu.
Sebenarnya, kita semua memiliki bekal rasa ingin tahu ini semenjak lahir. Kehebatan rasa ingin tahu inilah yang membuat bayi bisa merangkak, berjalan, dan bicara. Selanjutnya, rasa ingin tahu ini akan menentukan kualitas perkembangan otak mereka. Sayangnya, orangtua banyak melakukan intervensi negatif sehingga naluri penting ini terkubur dalam-dalam
Seringkali orangtua tak mau menjawab pertanyaan anak-anaknya yang menurut mereka terdengar konyol, lugu, dan seperti dibuat-buat. Seakan tak ada gunanya kalaupun orangtua mau repot-repot menjawabnya. Hal ini menjadikan anak belajar untuk mematikan rasa ingin tahunya. Setelah pertanyaan-pertanyaannya tak pernah dijawab, anak pun jadi malas untuk bertanya lagi, dan jadi tak peduli pada segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tindakan orangtua yang mematikan rasa ingin tahu anak itu sungguh tidak mendidik dan berpengaruh buruk terhadap perkembangan otak anak.
Sebagian kecil orangtua memang ada yang sangat mendukung perkembangan intelektual anaknya. Mereka bukan hanya menjawab pertanyaan anak, tetapi juga berusaha melakukan sesuatu untuk semakin menumbuhkan rasa ingin tahu sang anak. Mereka mendorong anak untuk bertanya dan terus bertanya, hingga anak sendiri yang kehabisan pertanyaan. Untuk itu, para orangtua ini menyediakan waktu sebanyak mungkin, karena mereka tahu, sepatah kata jawaban bisa menjadi sangat berarti bagi perkembangan sel saraf otak anak.
Perlu Kesabaran
Orangtua yang tidak sabaran, mungkin cuma diam atau menjawab ‘tidak tahu’ saat ditanya sang anak. Kadang, pertanyaan anak malah dijawab dengan bentakan, “Sudah diam! Jangan tanya-tanya terus. Ibu capek.”
Memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak itu diperlukan kesabaran, di samping perhatian dan kepandaian dalam menjawab. Seorang ibu yang sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah, mungkin akan lelah menghadapi seribu satu macam pertanyaan anaknya. Demikian juga dengan sang ayah yang sudah bekerja seharian mencari nafkah. Rasa lelah itu bisa menghilangkan mood untuk sekadar menjawab sang anak.
Bukankah jika kita menyatakan siap punya anak, secara otomatis kita juga harus siap ‘direpoti’? Adalah salah besar jika hanya karena alasan sibuk atau capek, lalu orangtua mematikan rasa ingin tahu sang anak. Sebisa mungkin, walau sedang sibuk bekerja, kita tetap berusaha memberi perhatian pada anak. Sambil memasak, seorang ibu bisa menjawab pertanyaan anak. Sambil membersihkan rumah pun bisa terus mengobrol dengan mereka.
Sekali lagi, dalam hal ini memang dibutuhkan kesabaran tinggi. Dalam menjawab pun kita harus menunjukkan perhatian, yang bisa ditampakkan lewat mimik muka dan cara menjawab dengan nada bersungguh-sungguh.
Jawablah dengan Benar
Orangtua tak perlu memberikan jawaban panjang atau berbelit-belit, sehingga malah sulit dimengerti anak. Cukuplah menjawab pertanyaan anak dengan jawaban pendek dengan bahasa yang disesuaikan dengan pemahaman anak. Jangan pernah menjawab pertanyaan anak dengan sembarangan. Jika menjawab, jawablah dengan benar. Jika orang tua tidak tahu jawaban yang benar, tak usah mencoba berbohong. Lebih baik katakan tidak tahu, dan cobalah menerangkan di lain waktu bila jawabannya sudah didapat. Sebagaimana contoh kasus di awal tulisan ini, Abu Asma’ berusaha menjawab pertanyaan putrinya dengan jawaban-jawaban pendek yang mudah dipahami.
Beruntunglah anak bila orangtuanya selalu berusaha menjawab pertanyaannya dengan benar. Selain bisa memuaskan hatinya, jawaban itu juga akan menambah pengetahuan dan wawasannya. Sayangnya, tak sedikit orangtua yang suka memberikan jawaban tidak benar pada anak. Misalnya saat Hasan (5) bertanya pada ibunya tentang gempa yang menyebabkan genting-genting di rumahnya melorot ke bawah. “Kok terjadi gempa kenapa Bu?” “Karena ada raksasa besar yang mengamuk di dalam laut, jadi bumi bergoncang.” Mungkin jawaban tersebut bisa diterima oleh daya imajinasinya, akan tetapi jawaban itu tidak menambah perbendaharaan pengetahuannya. Jawaban semacam ini sangat tidak bermanfaat, dan harus dijauhi oleh para orangtua. Seharusnya pertanyaan Hasan bisa dijawab, “Gempa itu penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena ada gunung meletus di daratan atau lautan, jadi bumi bergoncang.” Jika Hasan masih penasaran dengan sebab-sebab gempa lainnya, ibu bisa mencarikan referensi, misalnya buku atau majalah yang membahas tentang gempa, untuk dibacakan atau dibaca sendiri oleh Hasan.
Kemampuan Otak Balita
Mungkin kita mengira, anak-anak balita itu selain lugu juga tak tahu apa-apa tentang alam semesta kehidupannya. Tapi adalah kesalahan besar jika kita menganggap mereka bodoh, karena mereka mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang jauh lebih hebat dari yang kita pikirkan. Dari sekian banyak pertanyaannya yang dia ajukan dalam sehari, pasti ada yang masuk dan direkam baik-baik dalam otaknya. Ya, balita memang memiliki kemampuan menangkap pengetahuan dengan hebat, karena otak mereka belum dipengaruhi untuk memikirkan hal-hal lain.
Sebuah pertanyaan saja, bagi anak ibarat mempelajari sebuah bab pelajaran di sekolah sebagaimana yang dipelajari kakak-kakaknya. Maka jawabannya akan sangat berarti untuk mengasah ketajaman otaknya.
Yang perlu dikhawatirkan justru kalau anak terlalu pendiam, dan tidak ingin tahu banyak tentang segala sesuatu. Ia tidak pernah bertanya, dan tidak tertarik dengan adanya benda baru. Anak seperti ini harus ‘dipancing’ untuk membangkitkan rasa ingin tahunya. Orangtua bisa memulai dengan mengajukan pertanyaan, “Azmi, mengapa kalau siang tampak terang dan malam tampak gelap?” Atau, “Kamu dan ayam sama-sama punya kaki. Mengapa kamu bisa menendang bola, ayam tidak?” Dengan pertanyaan menarik diharapkan anak akan terangsang, kemudian menanyakan segala sesuatu. Makin sering orangtua memancing dengan berbagai pertanyaan menarik, tentu anak akan meniru tindakan orangtua.
Untuk mengembangkan kemampuan anak bertanya, bimbinglah anak untuk mempraktikkan kunci utama pertanyaan, yaitu 5W+1H. Yang dimaksud 5W+1H adalah what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (mengapa) dan how (bagaimana)
Selain itu orang tua juga bisa menyediakan buku bacaan atau majalah islami untuk anak-anak. Melihat gambar-gambarnya yang menarik dan berwarna-warni, bisanya anak-anak akan tertarik untuk mempertanyakan apa yang ia lihat. Jika anak tetap belum banyak bertanya seperti yang kita harapkan, maka orangtua yang harus aktif menyakan segala sesuatu tentang gambar-gambar atau kisah di buku tersebut. Yang mesti disadari, proses ini membutuhkan waktu dan memerlukan kesabaran. Semoga kita memiliki putra-putri yang shalih dan pintar.
Maraji’:
Mendidik dengan Cinta, Irawati Istadi. Pustaka Inti.

Tuesday, May 1, 2012

mengajar membaca pada anak





Oleh :Maya Kania Mediani S.Psi
(Guru Cendekia Leadership School,. Jl. Belitung No.3 Bandung)

Sudah lama pro dan kontra timbul mengenai mengajarkan membaca pada anak prasekolah. Ada ahli yang mengatakan bahwa anak usia prasekolah tidak boleh belajar dan diajarkan membaca karena usia ini adalah usia bermain dan anak secara mental belum siap membaca hingga usia 6 tahun. Orangtua diingatkan bahwa dalam keadaan apapun tidak seharusnya mengajarkan membaca sebelum menginjak usia ini. Anak - anak akan tertekan jika diajari membaca karena belum siap menerima pengajaran yang diberikan.Tetapi dilain pihak ada pula pendapat yang mengatakan bahwa mengajarkan anak membaca sejak dini bisa saja dilakukan bahkan kemampuan ini dapat memperkaya, memperluas pengetahuan berfikir anak.

Pendapat itu dikuatkan dengan berbagai penelitian dan pendapat berbagai ahli:
Penelitian mengenai otak yang dilakukan oleh Dr. Marian Diamond yang menyimpulkan bahwa pada umur berapapun sejak lahir hingga mati adalah mungkin untuk meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan. Sejauh menyangkut otak, ungkapan "use it or lose it" menunjukkan bahwa semakin terangsang otak kita dengan aktifitas intelektual dan interaksi lingkungan, semakin banyak jalinan yang dibuat antara sel-sel. Potensi otak dianggap tak terbatas. Sebaliknya jika kita tidak menggunakannya maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkannya.
Dilihat dari tahap perkembangan anak, usia prasekolah mengalami pertumbuhan yang pesat pada aspek bahasa. Terdapat hubungan antara bahasa dan membaca. Kesiapan anak untuk membaca sebenarnya sudah dimulai sejak lahir. Sejak bayi anak sudah diajak berbicara. Belajar mengenal bahasa dari lingkungannya. Bertolak dari pemikiran itu dapat dikatakan bahwa membaca sebenarnya hanyalah kelanjutan dari bahasa berbicara atau mengenal bahasa yang sudah dikenal anak.
Anak usia prasekolah mulai mengenal hubungan antara tulisan, bunyi dan artinya sehingga anak mengerti fungsi tulisan atau bacaan. Mereka mungkin senang membolak-balik buku, berpura-pura membacakannya serta mulai bertanya mengenai kata-kata tertentu yang tidak diketahuinya.
Menurut Elizabeth G. Hainstock :Anak - anak pra sekolah tidak hanya dapat diajarkan membaca tetapi bahwa inilah masa puncak anak secara alamiah dan antusias menyerap kecakapan - kecakapan membaca.

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar membaca merupakan proses yang dimulai sejak lahir. Dorongan untuk belajar mengalir secara alami dalam bentuk rasa ingin tahu yang kuat tentang dunia sekitar dan dari keinginan untuk memahami diri dan lingkungannya. Pada usia ini proses belajar didukung dengan tumbuhnya kesiapan untuk memahami bahasa dan minat terhadap kekuatan kata-kata. Jadi dapat dikatakan bahwa bukanlah sesuatu yang tabu untuk mengajarkan anak usia prasekolah membaca asalkan mereka sendiri sudah siap.

APA SIH "MEMBACA" ITU ?
Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia.Secara teoritis membaca adalah suatu proses rumit yang melibatkan aktifitas auditif (pendengaran) dan Visual (penglihatan) untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata.
Aktifitas ini meliputi 2 proses :
1. Proses membaca teknis.
Yaitu suatu proses pemahaman hubungan antara huruf dengan bunyi atau suara dengan mengubah symbol - symbol tertulis berupa huruf atau kata menjadi system bunyi. Proses ini disebut sebagai pengenalan kata.
Misalnya : anak mengucapkan baik dalam hati maupun bersuara seperti kata : "adik minum " yang tecetak merupakan proses membaca teknis.
2. Proses memahami bacaan.
Yaitu kemampuan anak untuk menangkap makna kata yang tercetak. Pada waktu melihat tulisan " adik minum " anak tahu bahwa yang minum bukan ayah atau adik dalam tulisan itu tidak sedang makan. Penguasaan kosakata sangat penting dalam memahami kata-kata dalam bacaan.

BAGAIMANA MENGAJARKAN ANAK USIA PRASEKOLAH MEMBACA
2 Jenis pendekatan pengajaran yang sering disampaikan :
1. Menekankan pada pemahaman symbol / huruf.
Menekankan pengenalan system symbol bunyi sedini mungkin.
Misalnya : diperkenalkan dengan nama alphabet dan bunyinya. Dimulai dari huruf yang paling sederhana dan tinggi frekwensi penggunaannya. Dari pengenalan huruf dan bunyi ini kemudian berkembang menjadi penggabungan huruf menjadi suku kata atau kata.
2. Menekankan belajar membaca kata dan kalimat secara utuh. Dengan pendekatan ini anak diharapkan dapat mencari sendiri sistem huruf - bunyi yang berlaku.
Para pakar hingga kini tidak mempunyai pendapat yang sama mengenai pendekatan yang lebih baik di antara keduanya. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa gabungan dari kedua pendekatan tersebutlah yang terbaik.

Apapun metode yang kita pergunakan, yang perlu kita ingat dalam mengajarkan membaca pada anak usia prasekolah adalah :

1. Pergunakan metode yang bervariatif sesuai dengan gaya dan kebutuhan anak. Hal ini mengingat bahwa setiap anak mempunyai kepekaan cara membaca yang berbeda satu sama lain.

2. Aktifitas dilakukan sambil bermain, bermain sambil belajar dan tidak formal. Masa anak - anak adalah masa bermain jadi sebaiknya tidak membebani anak dengan aktifitas pembelajaran formal yang menegangkan.

3. Ciptakan suasana yang nyaman, suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban. Dalam mengajarkan anak membaca selama hal inidilakukan dengan suasana santai dan akrab, maka anak akan cepat menangkap apa yang diajarkan.

4. Tidak perlu lama - lama. Kurang lebih 10 - 15 menit, tapi rutin dan konsisten. Hal ini mengingat bahwa kemampuan konsentrasi pada anak usia prasekolah tidaklah lama.

5. Berhenti sebelum anak merasa bosan. Kita harus peka terhadap reaksi anak pada saat mengajarkan membaca. Dan tidak ada paksaan. Pada saat anak mulai tidak berkonsentrasi atau tidak tertarik lagi maka berhentilah.

6. Ingatlah bahwa setiap anak berkembang dengan iramanya sendiri. Tidak jarang seorang anak maju pada satu bidang tetapi lambat pada bidang lain.

BAGAIMANA MENGGUGAH MINAT MEMBACA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH ?

1. Membacakan cerita pada anak - anak. Semakin sering membacakan untuk anak, akan semakin sering pula dia "membaca" mengikuti kita.
Di usia prasekolah anak terbiasa mendengarkan cerita akan bereksperimen dengan kata - kata, anak akan mencoba "meniru" membaca lebih dini dibanding anak yang tidak pernah dibacakan cerita. Semakin banyak cerita yang didengar anak-anak, akan semakin baik kemampuan membacanya dikemudian hari.Dengarkan jika anak "membacakan" cerita. Jangan buru-buru memotong "bacaannya " jika apa yang dibacanya tidak persis sama dengan kata-kata di buku. Selama ia masih mengingat jalan ceritanya berarti dia sedang dalam usahanya untuk dapat membaca.

2. Sikap kita terhadap buku. Biarkan anak-anak melihat cara kita membaca dan melihat kita menikmati dan asyik dengan apa yang kita baca. Untuk memperlihatkan pada anak-anak bahwa membaca adalah menyenangkan. Anak juga dapat melihat manfaat dari membaca.

3. Libatkan anak dalam kegiatan bahasa yangberbeda-beda termasuk saat bercakap-cakap dimana kita bisa berbagi cerita, bercanda, bernyanyi, membaca syair dan permainan bahasa lainnya. Aktifitas ini membantu anak anda mengembangkan kemampuan membedakan suara, pengembangan kosakata, sensitivitas terhadap struktur kata dan keahlian - keahlian lain yang penting untuk keberhasilan membaca dikemudian hari.

4. Temukan buku - buku anak - anak, majalah - majalah dan gambar - gambar yang sesuai dengan minat anak dan usianya. Tempatkan ditempat yang mudah dijangkau anak - anak. Fasilitasi dengan tempat yang nyaman.

5. Jadikan rutinitas pergi ke perpustakaan dan ke toko buku.

6. Perkenankan anak yang lebih tua dan sudah bisa membaca untuk membacakan cerita pada adiknya yang lebih muda.

7. Pada umumnya semua anak senang dipuji. Itu sebabnya jangan banyak mengkritik jika anak membuat kesalahan ketika membaca. Kalaupun dia membuat kesalahan seperti " sapu " dibaca " sapi " tetap pujilah usahanya itu dengan mengatakan bahwa dia sudah pandai pada awalnya hanya keliru sedikit di akhir katanya. Pujian adalah dorongan hebat bagi si kecil untuk terus belajar membaca.

Pustaka :
1. Seri Ayahbunda : Kesehatan dan Perilaku Anak Usia Sekolah Dasar
2. Seri Ayahbunda : Usia Prasekolah
3. http : www.parentplace.com
4. Membantu Putra anda Belajar Membaca, Betty Root.
Sumber : http://balita-care.blogspot.com/2006/01/mengajarkan-membaca-pada-anak-usia.html