Demo Site

Sunday, April 8, 2012

Mengatasi Anak Nakal


Senang rasanya melihat si kecil aktif, bergerak ke sana-kemari seakan tak ada letihnya. Namun, perlu juga diwaspadai, apakah si kecil hiperaktif? Untuk itu deteksi sejak dini agar bisa ditangani sejak dini. Kalau tidak, si hiperaktif akan sulit dikendalikan. "Hiperaktif dan gangguan perhatian bukan suatu gangguan yang dapat "disembuhkan sepenuhnya," ujar dra. Shinto B. Adelar, M.Sc, psikolog anak. Anak-anak hiperaktif bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang berhasil, tapi ada pula yang sebaliknya hal ini terjadi karena tak ditangani sejak dini. Berdasarkan penelitian ternyata ada hubungan antara anak-anak hiperaktif dengan mereka mereka yang pernah menghuni lembaga pemasyarakatan. Kebanyakan yang tinggal di kawasan itu, masa kecilnya mengalami hiperaktif. Mereka memiliki kenangan yang menyakitkan ketika di sekolah. Ini akibat mereka tak ditangani sejak dini, mereka tumbuh dan berperilaku merugikan dirinya maupun orang lain. Karena gangguan ini tak mampu disembuhkan. Orang tua dan pendidik harus berusaha kuat membantu mereka dan perlu dibantu sejak dini sehingga mereka bisa belajar mengatur hidup, mengatasi frustasi dan kelemahan-kelemahannya. Bimbinglah si hiperaktif ini menemukan keunggulan atau kekuatan sehingga mereka terlatih menghargai diri pribadi yang memiliki keunikan yaitu kelebihan dan kekurangan. Jika tidak diberikan bantuan, anak akan berulangkali terperangkap pada lingkaran kegagalan, frustasi, rendah diri dan akan membuat dirinya selalu bermasalah. Penyebab Hiperaktif
1.. Faktor Genetik
a.. Anak laki-laki dengan eksra kromosom Y yaitu XYY.
b.. Kembar satu telur lebih memungkinkan hiperaktif dibanding kembar dua telur.
c.. Faktor Lingkungan Racun atau limbah pada lingkungan sekitar bisa menyebabkan hiperaktif terutama keracunan timah hitam (banyak
terdapat pada asap knalpot berwarna hitam kendaraan bermotor yang menggunakan solar).
d.. Faktor Kultural dan Psikososial Si anak hiperaktif dan impulsif lebih banyak pada keluarga tanpa ayah.
e.. Faktor Neurologik Penelitian menunjukan, anak hiperaktif lebih banyak disebabkan karena gangguan fungsi otak. Adanya brain
damage akibat kesulitan pranatal atau perinatal, penyakit berat, cidera otak.
Cara Menangani Gangguan Perhatian & Hiperaktif
a.. Ke dokter agar diberi obat tertentu untuk mengurangi hiperaktivitas.
b.. Pendisiplinan tingkah laku di rumah dan sekolah.
c.. Anak diikutsertakan kegiatan fisik terutama yang bersifat kompetetif seperti berenang, olahraga bela diri, aerobiks, sepatu roda dan
lain-lain.
d.. Ketrampilan bergaul, ketrampilan menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
e.. Orang tua dan anggota keluarga harus memahami gangguan yang terjadi pada di hiperaktif sehingga bisa sama-sama menerima dan
melatihnya.
Membantu Si Hiperaktif Belajar
1.. Orang tua dan anggota keluarga memiliki kesabaran pada si anak. Tindakan yang menyebalkan yang ia lakukan bukan karena
disengaja.
2.. Menyediakan banyak waktu, sabar, tekun, konsisten, suportif, karena si kecil butuh perhatian khusus.
3.. Anak gangguan perhatian ini butuh bimbingan komunikasi, instruksi, respon dari orang tua.
4.. Jangan bernafsu mengajarkan anak. Berikan dia perintah sedikit saja. Yang terpenting perhatiannya tidak lepas.
5.. Jika si kecil sering mengalami kegagalan sehingga ia merasa rendah, hati-hatilah, jangan sampai orang tua mengolok-ngolokwalaupun
maksud Anda bercanda.
Membantu Memusatkan Perhatian Anak
1.. Tunjukkan sikap antusias pada Anak ketika menjelaskan atau mengajarkan sesuatu.
2.. Variasikan nada dan volume suara saat mengajar. Sebelum mengajar agar ia memperhatikan Anda, bersuaralah keras.
3.. Gunakan alat bantu untuk mempermudah menarik perhatiannya, seperti gambar.
4.. Biarkan anak membaca dengan bantuan jari atau alat lain untuk menunjuk bacaan yang dibacanya sehingga perhatiannya lebih
terarah.
5.. Kreatiflah menemukan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
6.. Berikan penjelasan dengan singkat dan jelas.
7.. Ajak anak belajar mengisi atau melengkapi kalimat yang belum selesai.
8.. Ajukan pertanyaan sehingga anak berpikir dan bertanya.
9.. Latihlah diskusi kelompok.
10.. Berikan pertanyaan mudah sehingga, mereka bisa menjawab dan tak lagi merasa bodoh, untuk memberinya pengalaman positif. 11.. Berikan pertanyaah yang bisa dijawab anak bersama-sama sehingga mereka bisa menjawab bersamaan.
Agar Anak Tetap Tenang
1.. Tempatkan anak di bangku yang dekat guru, di antara anak yang tenang dan amat memperhatikan pelajaran.
2.. Tataplah anak saat berkomunikasi.
3.. Singkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan di meja belajar anak, supaya perhatiannya tidak pecah.
4.. Gunakan kode tertentu yang disepakati anak untuk mempermudah ia berkosentrasi seperti mengetuk dagu yang artinya lihat sini,
perhatikan baik-baik.
5.. Sesekali gunakan kontak fisik, seperti memegang bahu atau menepuk punggung anak.
6.. Beri pujian bila anak tenang.
7.. Pilih tempat belajar yang tenang, jauh dari televisi atau musik keras.
8.. Ingatkan anak agar melakukan kegiatan secara teratur saat waktu tertentu (bangun, mandi, belajar, makan, tidur, baca buku, main
dll).
9.. Latih anak menyiapkan keperluan sekolah sebelum tidur, sehingga tidak tergesa-gesa di saat akan berangkat sekolah.
Sibukan Dia dengan Belajar Menulis
1.. Gunakan kertas bergaris, ajari anak untuk menulis kalimat dengan jarak satu baris.
2.. Atur huruf tidak terlalu berdekatan, ajari anak untuk menggunakan ujung jari kelingkingnya untuk mengukur jarak antar huruf.
3.. Gunakan kertas tebal agar tidak mudah robek, bila anak sering menghapus. Jika mudah robek ia akan cepat frustasi.
4.. Ajari agar kertas tak bergerak dengan cara menahannya dengan tangan lain. 5.. Nyalakan musik lembut dengan volume sayup-sayup, supaya ia lebih tenang. 6.. Beri tugas sesuai dengan tingkat perhatiannya.Sedikit demi sedikit beri tambahan pelajaran. Jangan ajarkan kata-kata mutiara. Anak Gemar Berbohong Berbohong sering dilakukan anak untuk menutupi sesuatu. Orang tua perlu waspada bila anak mulai gemar berbohong, terlebih bila dia semakin sulit membedakan antara kejujuran dan kebohongan. Dia menganggap bahwa berbohong adalah sebagian kenyataan yang harus diterima orang lain. Kenapa Berbohong? 1.. Menutupi aktivitas yang belum dilakukan. Misal, anak belum mengerjakan PR sementara orang tua mengharapkan anak sudah selesai membuatnya. Meski pada akhirnya orang tua tahu juga, sebelumnya anak akan melindungi diri dari kemarahan Anda dengan berbohong. 2.. Menonjolkan harapan. Anak yang berharap ibunya bisa membuat kue enak, meski ibunya tidak begitu ahli, ia akan berbohong pada teman-temannya kalau ibunya pintar memasak. 3.. Memutar-balikkan kebenaran dan fakta. Untuk melindungi diri, anak akan berbohong dan akan menuduh orang lain yang melakukannya. 4.. Menginginkan sesuatu yang belum tercapai. Sebagai contoh, keinginan berlibur ke suatu tempat, sementara anak tahu kalau orang tuanya tidak mampu atau belum memenuhinya. Dia akan berbohong pada orang lain pernah ke tempat tersebut. 5.. Berlindung, akibat kesalahannya. Anak akan menghindari kemarahan orang tua dengan berbohong. Misal, anak yang memecahkan benda kesayangan ibunya. Dia akan berbohong dan mengatakan tidak tahu karena takut dimarahi. 6.. Ingin diperhatikan. Berbagai upaya akan dilakukan anak untuk menarik perhatian orangtuanya, walau dengan berbohong. 7.. Konfabulasi yaitu bercerita yang sebagian ceritanya adalah kebohongan. Tujuannya untuk melebih-lebihkan cerita agar orang lain berminat mendengarkan. 8.. Sulit membedakan antara kenyataan dan fantasi. Begitu seringnya anak berfantasi, maka akan semakin banyak pula keinginan anak pada berbagai hal. Kondisi ini kerap kali dijadikan bahan cerita sehari-harinya. 9.. Menginginkan sesuatu. Berbohong dilakukan anak agar ia memperoleh keinginannya dengan mudah. 10.. Menutupi kenyataan yang sebenarnya. Misal, anak yang terluka karena dipukul temannya sementara ia mengaku luka tersebut akibat jatuh. 11.. Menolak penilaian orang tua. Penolakan ini karena anak tidak senang dinilai suka berbohong. Semakin sering orang tua mengatakan anaknya berbohong, anak justru akan semakin sering berbohong. 12.. Mengangkat harga diri. Dengan cerita-cerita bohong anak merasa harga dirinya terangkat. Ia akan menikmati karena mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain. 13.. Diperlihatkan contoh-contoh yang salah. Sesungguhnya anak tahu bahwa pernyataan atau kejadian itu salah. Karenanya ia akan memberikan pembenaran dengan berkata bohong. Yang Harus Anda Lakukan Bila Anda mengetahui anak Anda berbohong segera lakukan tindakan. Jangan sampai sifat ini menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan, yaitu dengan cara: a.. Tidak selalu memojokkan dan membuat anak merasa 'kecil'. b.. Memberi kepercayaan dengan sepenuh hati c.. Berdiskusi sesering mungkin d.. Memberi pengertian kalau berbohong adalah tindakan tidak terpuji e.. Menghindari pemberian hukuman yang berlebihan, tidak proposional, dan terlalu sering f.. Memberi contoh yang baik g.. Menanamkan kejujuran h.. Mengajarkan nilai-nilai moral i.. Memancing anak berani bercerita hal-hal yang nyata j.. Mengajak anak bercerita tentang keinginan dan fantasinya k.. Menyelidiki sebab-sebab anak berbohong l.. Bila Anda tidak menanangani lagi, mintalah bantuan pada ahlinya. Mendongeng Untuk Anak Mendengarkan dongeng sangat disukai semua anak. Sebagai aktivitas yang tidak mengeluarkan banyak energi, anak akan menikmati cerita-cerita yang Anda sampaikan. Tentunya dengan "bumbu-bumbu penyedap" yang bisa menarik minat anak mendengarkan hingga tuntas. Ciptakan rasa penasaran anak pada topik cerita. Rangkai dalam satu bagian kisah yang membuat anak berpikir dan selalu ingin bertanya. Pilih kalimat yang komunikatif dan imajinatif. Bila anak sangat berminat dengan cerita Anda, pertajam lagi isi cerita. Banyak manfaat yang bisa diambil bila Anda rajin menceritakan dongeng pada anak. Anak cenderung lebih imajinatif, komunikatif, kreatif, dan cepat menangkap situasi disekitarnya. Anak juga akan memiliki kosa kata lebih banyak, pintar menyusun kata-kata dengan intonasi nada yang teratur dan lebih menarik. Pilih dongeng yang mendidik, memiliki nilai-nilai moral yang baik, dan ringan sehingga cepat ditangkap anak. Sisipkan dengan kalimat humor yang interaktif. Agar lebih menarik, ubah gaya bicara Anda sesuai tokoh yang Anda tampilkan. Anda bisa memilih dongeng berlatar belakang cerita rakyat. Cerita ini masih lazim digunakan orangtua sebagai bahan dongengan. Begitupun dengan cerita sejarah, pahlawan ataupun asal muasal suatu daerah. Dongeng yang mengambil tokoh-tokoh fiktif seperti binatang yang bisa berbicara, nenek sihir, atau benda-benda mati yang 'dihidupkan' juga menarik menjadi bahan cerita Anda. Buatlah dongeng menjadi cerita bersambung yang disampaikan pada anak secara bertahap. Dengan begitu anak akan selalu mengingat-ingat cerita Anda yang belum selesai. Anak juga akan terlatih untuk berpikir tentang kelanjutannya. Fantasi anak akan terus berkembang sesuai dengan imajinasinya. (sumber : satuwanita.com ; Witri/Tabloid Wanita Indonesia)

MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN ANAK

Agar anak bisa tumbuh secara optimal diperlukan lingkungan yang subur. Orang tua dan guru memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan itu guna merangsang segenap potensi anak.

"Suasana penuh kasih sayang, mau menerima anak sebagaimana adanya, menghargai potensi anak secara kognitif, afektif, dan psikomotorik merupakan jawaban nyata bagi tumbuhnya generasi unggul dimasa datang," ujar Dr. Seto Mulyadi saat tampil pada seminar mini Mempersiapkan Anak Cerdas dengan Tumbuh Kembang yang Optimal diselenggarakan RS Harapan Kita di Hotel Ibis, Slipi, Jakarta, Sabtu (26/2) lalu.

Menurut pakar, 60 - 70 persen kecerdasan anak diturunkan secara genetik. Sedangkan 30 - 40 persen sisanya merupakan pengaruh lingkungan, antara lain seperti stimulan, makanan dan pendidikan. Sementara menurut Dr. Iramaswaty Kamarul, Sp.A, peranan AA dan DHA dalam kecerdasan anak sangat diperlukan. Hal itu bisa ditemukan dalam ASI.

Lokakarya Child Health Foundation merekomendasikan agar bayi yang memperoleh ASI harus memperoleh susu formula yang mengandung 0,35 persen AA dan 0,2 persen DHA. Berbagai cara telah ditempuh untuk mendapatkan AA-DHA dalam susu formula, yaitu dengan menambahkan sumber microbiologic (ganggang laut), minyak ikan (solomon), telur, dan minyak nabati.

Masa Keemasan Anak

Masa Keemasan Anak

Masa keemasan (golden age) seorang anak adalah merupakan masa paling penting bagi pembentukan pengetahuan dan prilaku anak. Oleh sebab itu, banyak para orang tua yang kemudian "menjejali" anaknya dengan berbagai hal sejak usia dini.Terlebih saat ini semakin banyak tawaran produk atau jasa yang ditujukan untuk anak-anak kita, dengan alasan yang kerap dipakai adalah Golden Age manusia hanya terjadi pada anak-anak, sehingga sang orang tua hanya dihadapkan kepada dua pilihan mau
berbuat sebanyak-banyaknya atau membiarkan saja masa itu berlalu ?

Seorang ibu, Sundari 35 tahun di bilangan Menteng Jakarta Pusat menuturkan bahwa anaknya sejak berusia 2 tahun hingga sekarang berusia 5 tahun dan sudah memasuki TK, sudah diikutkan dalam berbagai kegiatan seperti kursus komputer, bahasa Inggris, piano, renang, ballet, aritmatika, melukis, dan menari. "Pokoknya saya buat anak saya ini super sibuk mumpung otaknya masih bersih" ujarnya. (mainnya kapan ya ?). Untunglah ibu Sundari termasuk golongan the have, jadi tidak ada masalah mau bagaimanapun anaknya dibentuk.

"Pokoknya saya buat anak saya ini super sibuk mumpung otaknya masih bersih" ujarnya.

Lebih-lebih kalau bicara soal pertumbuhan badannya, disamping diberi minum susu yang bagus, juga ditambahkan dengan makanan suplemen kesehatan fisik dan otak yang harganya selangit. Hanya persoalannya tepatkah sikap ibu tersebut dalam mengisi masa keemasan anaknya ?

Memang menurut beberapa penelitian para ahli mereka sepakat bahwa otak manusia itu mengalami proses perkembangan dari tingkat yang paling dahsyat sampai kemudian melemah. Menurut catatan Gordon Dryden dan Jeannette Vos, seperti ditulis dalam bukunya Learning Revolution (1999), para peneliti membuktikan bahwa 50% kemampuan belajar anak ditentukan dalam 4 tahun pertamanya, dan 30%-nya
sebelum usianya mencapai 8 tahun.

"Tapi ini tidak berarti bahwa si anak menyerap 50% pengetahuan, atau 50% kearifan, atau 50% kecerdasan pada usia ke empat. Maksudnya adalah, dalam empat tahun pertama itu anak membentuk jalur-jalur belajar utama di otaknya (koneksi dalam otak). Materi apapun yang ia pelajari nanti akan berdiri di atas dasar jalur-jalur itu," tulisnya menegaskan tentang empat tahun pertama.

Imam Ratrioso seorang psikolog meluruskan pandangan umum tentang golden age anak bahwa masa itu tidak lantas si anak dijejali dengan 1000 halaman buku dan berbagai suplemen kesehatan. Yang justru lebih penting adalah kualitas pengasuhan kita. Mengapa ?

"Karena golden age adalah masa dimana jalur belajar anak tentang karakter, sikap, intelek, emosi, dan moral manusia dibentuk. Semakin bagus kualitas pengasuhannya, berarti semakin banyak dan bagus jalur belajar yang terbentuk di otaknya" jawab Imam.

Phil Silva, Direktur Riset di Universitas Otago - New Zealand, menyimpulkan bahwa anak yang pertumbuhan jalur belajarnya bermasalah pada usia dini akan cenderung mengalamai masalah pada usia remaja.Bagaimana seharusnya orang tua ?Kalau kita ingin mencari anak yang hidupnya enak, pastinya tempatnya sudah jelas, di rumah mewah, sekolah yang bayarnya mahal, restoran jetset, dan mobil yang mentereng.

Tapi kalau mencari anak yang punya otak hebat, tempatnya tidak jelas. Kita bisa temukan anak berotak hebat itu di rumah mewah atau di gubuk reyot, rumah kontrakan, bahkan ada yang di tenda-tenda pengungsian. Ada juga kita temukan di sekolah mahal bertaraf internasional atau di sebuah pesantren dekat kaki gunung nun jauh di sebuah desa terpencil, bahkan ada juga di panti asuhan.

Itulah sebabnya kalau kita membaca biografi tentang orang-orang besar dunia, dari mulai para nabi hingga orang biasa, akan kita temukan fakta yang tidak seragam

Itulah sebabnya kalau kita membaca biografi tentang orang-orang besar dunia, dari mulai para nabi hingga orang biasa, akan kita temukan fakta yang tidak seragam mengenai asal usul dan latar belakang sosial mereka. Ada yang dari keluarga dan lingkungan yang enak, dan ada dari situasi dan kondisi lingkungan yang sama sekali tidak nyaman.

Walau demikian, mereka memiliki kesamaan umum yang di istilahkan oleh pakar pengembangan diri sebagai "learning" (punya tradisi belajar). Belajar adalah upaya seseorang untuk menyalakan api kejeniusan.

Ada tiga faktor manusia menjadi jenius. Pertama, karena diajar oleh Tuhan langsung sejak dari kandungan. Kedua, karena diajar oleh Tuhan secara tidak langsung melalui pengasuhan yang bagus dari orang dewasa disekitarnya. Ketiga, karena diajar oleh Tuhan secara tidak langsung melalui pengalaman pahit dalam hidupnya.

Pasti kita tidak pernah tahu termasuk golongan mana anak kita nanti. Karena itu, yang paling penting dilakukan oleh para orangtua adalah harus senantiasa menyalakan api kejeniusan atau merangsang terbentuknya berbagai jalur belajar di otaknya, bukan seperti orang mengisi keranjang dengan konsumerisme (memasukkan berbagai kursus, mengonsumsi semua jenis suplemen gizi, dan lain-lain). Dan itu semua ditentukan oleh pola pendidikan dan pengasuhan yang berkualitas.

Pola Pengasuhan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW menganjurkan para orang tua untuk memberi bekal kebaikan kepada anak sejak dini "minal mahdi ilal lahdi" dengan pola pendekatan melalui permainan yang menggembirakan, tidak kasar, berdisiplin, dan ajarkan pengetahuan sesuai dengan tingkat usianya.

Bahkan dalam hal pemberian nama saja Rasulullah menganjurkan agar memberi dengan nama yang baik supaya terbentuk konsep diri positif. Termasuk juga memberi makanan bergizi. Kriteria bergizi menurut beliau adalah : Pertama, harus halal dan baik secara kesehatan, dan kedua, harus benar dalam cara mendapatkannya. Beliau mengingatkan jangan sampai kita memberi makanan yang haram dan diperoleh secara haram karena makanan itu akan menjadi daging dan itu akan ikut membentuk perilaku.

Selanjutnya Rasulullah juga mengingatkan kita agar menanamkan sejak dini kepada anak kita tradisi bersyukur. Syukur adalah menggunakan karunia Allah dengan cara yang benar dan untuk hal-hal yang benar, baik, serta bermanfaat. Wallahu a'lam.
(sal/voa-islam dari berbagai sumber).